Tahun 1998. Di sebuah dapur kecil di kawasan Laweyan, Solo, seorang ibu rumah tangga bernama Sri Tini mulai menggoreng keripik singkong sambil menunggu anaknya pulang sekolah. Tidak ada yang menyangka bahwa kegiatan iseng itu akan berubah menjadi bisnis yang menjangkau 24 provinsi di seluruh Indonesia.

1998. In a small kitchen in the Laweyan area of Solo, a housewife named Sri Tini started frying cassava chips while waiting for her child to come home from school. No one could have imagined that this casual activity would grow into a business reaching 24 provinces across Indonesia.

Awal Mula yang Sederhana / A Humble Beginning

Bu Tini, sapaan akrabnya, memulai dengan modal Rp 50.000 untuk membeli singkong dari tetangga dan bumbu-bumbu dapur. Keripiknya laku di arisan ibu-ibu, lalu di warung depan rumah, kemudian menyebar ke pasar tradisional Laweyan.

Bu Tini, as she's fondly called, started with Rp 50,000 capital to buy cassava from neighbors and kitchen spices. Her chips sold well at neighborhood gatherings, then at the shop front of her house, then spread to the traditional Laweyan market.

"Saya tidak pernah bermimpi jadi pengusaha besar. Saya hanya ingin keripik buatan saya bisa dimakan banyak orang. Ternyata Tuhan punya rencana yang jauh lebih besar."

— Sri Tini, Pendiri Dapur Bu Tini

"I never dreamed of becoming a big entrepreneur. I just wanted my chips to be enjoyed by many people. Turns out God had a much bigger plan."

— Sri Tini, Founder of Dapur Bu Tini
Keripik singkong pedas manis Bu Tini dengan tampilan renyah dan warna keemasan — Bu Tini's sweet and spicy cassava chips with crispy appearance and golden color
Keripik Singkong Pedas Manis Bu Tini — produk andalan yang kini tersebar di 24 provinsi / Bu Tini's Sweet Spicy Cassava Chips — flagship product now distributed in 24 provinces

Bertemu dengan Jendela Multi Terang / Meeting Jendela Multi Terang

Titik balik datang di tahun 2021 ketika Ahmad Fauzi, Kepala Hubungan UMKM JMT, menemukan keripik Bu Tini saat berkunjung ke Pasar Gede Solo. Rasa yang autentik dan kemasan yang sudah cukup rapi langsung menarik perhatiannya.

The turning point came in 2021 when Ahmad Fauzi, JMT's UMKM Relations Head, discovered Bu Tini's chips while visiting Pasar Gede Solo. The authentic taste and already decent packaging immediately caught his attention.

"Saya langsung telepon Pak Hendra malam itu," cerita Ahmad. "Saya bilang: Pak, saya baru nemukan keripik yang mau saya bawa masuk ke JMT." Tim JMT kemudian mengunjungi dapur Bu Tini, melakukan uji coba produk, dan dalam waktu 6 minggu, Keripik Bu Tini resmi masuk ke katalog JMT.

"I called Mr. Hendra that same night," said Ahmad. "I said: Sir, I just found chips that I want to bring into JMT." The JMT team then visited Bu Tini's kitchen, conducted product trials, and within 6 weeks, Bu Tini's Chips officially entered JMT's catalog.

Proses pengemasan produk UMKM dengan cermat untuk persiapan distribusi — careful UMKM product packaging process for distribution preparation
Proses pengemasan yang teliti adalah kunci kualitas produk hingga ke tangan konsumen / Careful packaging process is the key to product quality reaching consumers

Transformasi: Dari Dapur ke Pabrik Kecil / From Kitchen to Small Factory

Bergabung dengan JMT membawa perubahan besar. Dengan pesanan yang terus meningkat, Bu Tini harus memperluas kapasitas produksinya. Dia menyewa ruko kecil, merekrut 8 karyawan dari warga sekitar, dan membeli mesin penggoreng otomatis.

Joining JMT brought major changes. With orders continuously increasing, Bu Tini had to expand her production capacity. She rented a small shophouse, hired 8 employees from the surrounding community, and purchased an automatic frying machine.

8 Karyawan Baru
New Employees
24 Provinsi Jangkauan
Provinces Reached
Peningkatan Omset
Revenue Growth
4 Varian Rasa Baru
New Flavor Variants

Pelajaran dari Bu Tini / Lessons from Bu Tini

Kisah Bu Tini bukan hanya tentang keberhasilan bisnis. Ini tentang bagaimana seorang ibu sederhana dengan tekad kuat bisa mengubah keahlian memasak menjadi warisan yang memberi manfaat bagi banyak orang — mulai dari petani singkong yang panennya kini terserap, hingga karyawan yang mendapat penghasilan tetap.

Bu Tini's story is not just about business success. It's about how a simple mother with strong determination can turn cooking skills into a legacy that benefits many — from cassava farmers whose harvest is now absorbed, to employees who have steady income.

Dan bagi Jendela Multi Terang, Bu Tini adalah pengingat mengapa kami ada: untuk membuka "jendela" bagi setiap produk UMKM yang luar biasa, agar ceritanya bisa didengar oleh lebih banyak orang.

And for Jendela Multi Terang, Bu Tini is a reminder of why we exist: to open a "window" for every extraordinary UMKM product, so their story can be heard by more people.